Sabtu, 22 Desember 2012

Industri Kimia Plastik


PENDAHULUAN
1.1.      Sejarah Singkat
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan 5 % per tahun akan berdampak langsung terhadap peningkatan daya beli masyarakat terhadap barang-barang konsumsi yang menggunakan plastik. Selain itu penggunaan plastik sebagai bahan pengganti kaca dan logam khususnya di bidang kemasan dan komponen kendaraan bermotor serta alat-alat elektronik semakin meluas dari tahun ke tahun. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena kecenderungan masyarakat untuk memperoleh sesuatu yang praktis dan ringan semakin besar.
Pada tahun 1990, konsumsi plastik di Indonesia diperkirakan sekitar 2,50 kg per kapita atau kira-kira satu per enam dari Negara Malaysia. Rendahnya konsumsi plastik ini merupakan pasar yang potensial bagi pemasaran plastik. Di samping itu, iklim ekonomi dan politis Indonesia yang stabil telah banyak menarik investor asing dari Negara Jepang, Korea dan Taiwan untuk merelokasi operasi usaha mereka ke Indonesia, khususnya di bidang industri elektronik yang banyak memerlukan tenaga kerja dan komponen plastik sehingga permintaan akan plastik akan meningkat.
Perkembangan industri kemasan di Indonesia telah mengalami tahap lanjut seiring dengan dimulainya industri kemasan plastik lembaran yang berproses bentangan dua arah berbasis polypropylene atau yang lebih dikenal dengan istilah biaxially oriented polypropylene (BOPP) pada tahun 1980-an. Penerapan inovasi teknologi BOPP ini memberikan jawaban atas kebutuhan kemasan yang memiliki sifat yang lebih unggul yaitu jauh lebih murah, tidak beracun, higienis, bersahabat dengan lingkungan dan berpenampilan yang tidak kalah menarik seperti cerah, mengkilat dan bening dibandingkan dengan kemasan yang berbasis plastik PVC, serat kayu (kertas dan selofin) atau logam (aluminium dan timah). Di samping itu lembaran BOPP juga memiliki daya pelindung yang handal terhadap perubahan cuaca dan suhu karena sifat kedap udara.
Lahimya industri lembaran plastik BOPP ini telah mendorong pergeseran yang berarti dalam pengemasan beragam produk‑produk barang konsumsi seperti rokok, makanan, minuman, bumbu penyedap, farmasi, kosmetik, kaset audio/video, pita perekat dan tinta printer, karena lembaran BOPP lebih menguntungkan bagi industri hilir dibandingkan dengan bahan kemasan lainnya. Indonesia bahkan memiliki keunggulan komparatif dalam industri lembaran BOPP dengan adanya dukungan kuat dari industri polypropylene dan propylene.
Industri kemasan lembaran BOPP adalah industri yang memiliki keterkaitan erat dengan industri barang‑barang konsumen sebagai industri pengguna. Sebagaimana dikenal, industri barang konsumen adalah salah satu industri yang mampu bertahan dalam situasi ekonomi resesi (bust). Sebaliknya di situasi ekonomi memulih (boom), industri barang konsumen juga yang pertama mengalami pemullhan. Dengan demikian, industri lembaran BOPP diperkirakan akan mengalami pertumbuhan pesat mengikuti karakteristik perkembangan industri penggunanya.


1.2.      Produk yang Dihasilkan
Produk utama yang dihasilkan industri plastik adalah kemasan plastik dan komponen, sebagai berikut:
1)            Kemasan plastik untuk industri:
*        Makanan dan minuman
*        Kosmetika dan farmasi
*        Pembersih rumah tangga
2)            Produk-produk plastik seperti komponen plastik untuk industri:
*        Kendaraan bermotor
*        Batu baterai dan aki
*        Listrik, elektronik dan komputer
*        Alat-alat listrik rumah tangga
*        Farmasi
3)            Sikat gigi
4)            Mould/cetakan-cetakan untuk proses pembuatan plastik, baik blow maupun injection
5)            Shrink film sebagai kemasan fleksibel
6)            Dekorasi printing untuk kemasan plastik, dekorasi hot stamping, serta fasilitas aplikasi shrink label dan stiker label untuk kemasan-kemasan plastik
7)            Plastic engineering
8)            Lembaran plastik (plastic sheet) untuk industri ”Vacuum Forming”. Lembaran plastik ini digunakan sebagai bahan baku dari industri ”Vacuum Forming”, dimana produk yang dihasilkannya berupa ”tray plastik”, tempat ”jelly”, gelas plastik dan sebagainya.
9)            Berbagai macam jenis lembaran PVC dengan berbagai macam spesifikasi. Berbagai macam ukuran lembaran PVC yang sering dipakai adalah dimensi (tebal, panjang dan lebar), tingkat kelembutan dan kekakuan, kelenturan, tingkat regangan, kekuatan permukaan (abrasive resistance) dan elastisitasnya. Penentuan ukuran yang dipakai adalah berbeda untuk setiap jenis - lembaran PVC, tergantung dari penggunaannya.
        10)     BOPP yang digunakan sebagai kertas kaca pengemas untuk bermacam‑macam barang        konsumen. 


PROSES PRODUKSI

2.1.      Bahan Baku
Bahan baku yang digunakan dalam proses produksi kemasan plastik selain daripada biji plastik adalah polypropylene (PP), polythelene (PE), poly vinyl chloride (PVC), polystyrene (PS), polycarbonate (PC), acrylonitrile butadiene styrene (ABS), dan lain-lain. Di Indonesia telah diproduksi bahan baku polystyrene (PS) dan poly vinyl chloride (PVC). Bahan baku lainnya dapat diperoleh secara impor melalui pemasok-pemasok di Jerman, Jepang dan Singapura.
Adapun bahan baku utama yang diperlukan dalam memproduksi lembaran PVC dan kulit imitasi adalah bubuk PVC dan DOP, Bahan pembantu lainnya yang diperlukan antara lain: stabilizer, pigmen, epoxy, impaci modifire, stearic acid. mentablen, irgaplast sylobloc, lem dan kain. Masing‑masing bahan pembantu ini mempunyai sifat yang berbeda yang membentuk sifat dah produk yang dihasilkan. Komposisi masing‑masing bahan baku utama dan bahan pembantu untuk masing‑masin jenis produk adalah berbeda, tergantung dari ketebalan dan spesifikasi produk yang diiginkan oleh pelanggan. Perusahaan memperoleh bahan baku utamanya melalui pembelian baik dari pemasok dalam negeri maupun impor. Pada operasional normal sehari‑hari, Perseroan membeli bahan baku dan bahan pembantu dari suplier lokal sebesar sekitar 70,00% dari total kebutuhan bahan baku dan bahan pembantu. Penentuan pembelian dari pemasok dalam negeri atau impor dilakukan atas dasar perbedaan harga, kuantitas yang diperlukan, jangka waktu yang diperlukan untuk pengiriman barang dan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Sedangkan bahan baku utama yang dibutuhkan dalam proses produksi lembaran BOPP (film BOPP) dibagi menjadi tiga golongan, yaitu bahan baku utama untuk badan (inti) lembaran, yang disebut homopolimer (homopolymer), bahan baku pembantu untuk lapisan kulit luar (skin) lembaran plastik yang memberikan nilai tambah lembaran berupa corak dan karakteristik plastik yang disebut kopohmer (copolymer) dan bahan pembantu berupa zat-zat tambahan (additive agents atau master batch) yang berfungsi untuk mengubah sifat fisik dari plastik seperti zat anti kaku (antistatic), bening dan licin (superslip), dan tidak mudah membeku (anti block) dan atau wama.
Sebagaimana nama dari produk lembaran BOPP, homopolimer yang dipakai adalah bijih plastik polipropilin (polypropylene atau PP) yang merupakan 96% kandungan bahan baku yang dibutuhkan dalam pembuatan film BOPP. Dalam pengadaan bahan baku tersebut, sekitar 15% bahan baku utama diimpor dari Singapura   dan sisanya atau sekitar 85% diperoleh oleh pemasok lokal. Untuk bahan pembantu kopolimer dan zat-zat tambahan sebagai mana disebutkan di atas, 100% diimpor dari negara Jerman, Jepang, India, dan Belgia., Selain polipropilin yang diterima dari pemasok tersebut, Perseroan juga memperoleh bahan baku dari proses daur ulang atas produk-produk Perseroan yang gagal atau rusak (defect). Penggunaan bahan baku dan proses daur ulang tersebut memberikan kontribusi sekitar 5% dari jumlah bahan baku yang dibutuhkan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar