Nama : Yopy Arista Kuding
NIM : 41612010013
Teknik Industri Mercu Buana
Nilai Guna Kotoran Hewan
Kotoran Hewan Bisa Jadi Energi Alternatif
Bogor,
CyberNews. Peneliti
Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil menemukan energi alternatif yang
terbarukan atau gas bio dari limbah nata de coco yang dicampur dengan
kotoran hewan.”Sebenarnya, jika industri mau bersusah sedikit saja limbah cair
nata de coco dapat disulap menjadi energi terbarukan untuk keperluan
sehari-hari. Bahkan bisa menggantikan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil
di masa yang akan datang,” demikian diungkapkan humas IPB dalam siaran persnya
kepada SM CyberNews.
Hal ini karena limbah nata de coco merupakan sumber bahan baku penghasil gas bio dan pupuk organik yang sangat potensial mengingat jumlah limbah yang dihasilkan cukup besar (10-20 persen dari total produksi).
Hal ini karena limbah nata de coco merupakan sumber bahan baku penghasil gas bio dan pupuk organik yang sangat potensial mengingat jumlah limbah yang dihasilkan cukup besar (10-20 persen dari total produksi).
Disebutkan,
pemanfaatan limbah nata de coco sebagai energi alternatif yang terbarukan atau
gas bio ini dikembangkan oleh mahasiswa S3 Pengelolaan Sumberdaya Alam dan
Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB), Zaitun. Zaitun kemudian menuliskan
hasil penelitiannya dalam disertasinya yang berjudul ‘Pengelolaan Limbah
Industri Kecil Nata De Coco Melalui Teknologi Produksi Gas Bio dan
Pemanfaatannya sebagai Pupuk Organik Cair’.
Menurut
Zaitun, bahan baku pembuatan gas bio merupakan campuran limbah nata de coco dan
kotoran sapi dengan 4 macam perlakuan yakni T1, T2, T3 dan T4. Formulasi T1
terdiri dari 75 persen nata de coco + 25 persen kotoran sapi.
“T2 terdiri
dari 50 persen limbah nata de coco + 50 persen kotoran sapi. T3 tersusun atas
25 persen limbah nata de coco + 75 persen kotoran sapi. Sedangkan T4 berasal
dari 100 persen kotoran sapi. Bahan baku tersebut diproses dalam pencerna
anaerobic selama 30 hari,” jelas Zaitun.
Dijelaskan,
sebenarnya dibanding kotoran sapi, kotoran babi, ayam dan kuda lebih baik,
sebab rantai karbon-nya lebih banyak. Tetapi Zaitun kemudian memilih kotoran sapi,
karena disekitar lokasi penelitiannya banyak dijumpai peternakan sapi dan sulit
ditemui peternakan babi, ayam serta kuda.
“Manfaat
lain yang diperoleh dari penggunaan kotoran sapi itu adalah mengurangi
pencemaran lingkungan,” ujarnya.
Wanita
kelahiran Pemantang Siantar, 12 Mei 1969 ini melakukan penelitian pendahuluan
di Laboratorium Kimia dan Lingkungan, Departemen Kimia Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam IPB. Sementara percobaan pembuatan gas bio dan penerapan
pemanfaatan limbah gas bio dilaksanakan di Desa Jabon Mekar, Parung, Bogor
terhitung bulan Agustus 2001 hingga November 2003.
Gas bio
hasil penelitian Zaitun merupakan campuran berbagai gas seperti gas metana, gas
hidrokarbondioksida, gas dihidrogen sulfur, dan gas nitrogen dioksida.
Kandungan gas metananya cukup tinggi, untuk T3 sebesar 82,97 persen dan T4
81,35 persen.
Gas bio yang
dihasilkan dari perlakuan T3 dan T4 ternyata dapat dimanfaatkan untuk memasak
dengan produksi gas bio sebesar 44,07 liter per hari pada T3 dan 49, 88 liter
per hari T4. “Pemanfaatan gas bio untuk memasak 1 liter air hingga mendidih.
Pada perlakuan T3 membutuhkan 30,1 liter gas bio selama 17 menit 23 detik.
Adapun pada perlakuan T4 membutuhkan 36 liter gas bio selama 20 menit 47
detik,” ungkapnya.
Zaitun memperkirakan
sehari sebuah industri nata de coco memasak air 125 liter, berarti dibutuhkan
kurang lebih 10 unit pencerna anaerob. Sehingga bila dikonversikan sebuah
industri membutuhkan 2000 liter limbah cair per hari.
Selain itu,
setelah dianalisis limbah gas bio yakni berupa cairannya dapat dimanfaatkan
sebagai pupuk organik. Limbah cair tadi diketahui mengandung berbagai unsur
hara (N,P,K,Ca,Mg,S,C-organik, Fe, Mn, Cu, Zn, B) yang sangat dibutuhkan dalam
pertumbuhan tanaman dan pHnya berkisar 5,36 -7,03.
Pemberian
pupuk organik cair dapat meningkatkan produksi tanaman selada segar. Ditinjau
sisi ekonomis pupuk cair hasil limbah gas bio perlakuan T3-lah yang paling
menguntungkan dengan selang waktu penyiraman satu kali seminggu. “Karena mampu
meningkatkan bobot segar tanaman menjadi 79,203 gram dibandingkan bobot segar
tanaman yang diberi pupuk anorganik (TSP) hanya bisa menaikkan 8,95 gram,”
ujarnya.
Dari segi
kelayakan usaha, menurut Zaitun, pembuatan gas bio dan budidaya tanaman selada
organik pada T3 (dengan selang waktu penyiraman pupuk organik cair satu kali
seminggu) layak dilakukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar