Kamis, 20 Desember 2012

Nilai Guna Kotoran Hewan


Nama     : Yopy Arista Kuding
NIM                : 41612010013
Teknik Industri Mercu Buana

Nilai Guna Kotoran Hewan

Kotoran Hewan Bisa Jadi Energi Alternatif
Bogor, CyberNews. Peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil menemukan energi alternatif yang terbarukan atau gas bio dari  limbah nata de coco yang dicampur dengan kotoran hewan.”Sebenarnya, jika industri mau bersusah sedikit saja limbah cair nata de coco dapat disulap menjadi energi terbarukan untuk keperluan sehari-hari. Bahkan bisa menggantikan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil di masa yang akan datang,” demikian diungkapkan humas IPB dalam siaran persnya kepada SM CyberNews.

Hal ini karena limbah nata de coco merupakan sumber bahan baku penghasil gas bio dan pupuk organik yang sangat potensial mengingat jumlah limbah yang dihasilkan cukup besar (10-20 persen dari total produksi).
Disebutkan, pemanfaatan limbah nata de coco sebagai energi alternatif yang terbarukan atau gas bio ini dikembangkan oleh mahasiswa S3 Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB), Zaitun. Zaitun kemudian menuliskan hasil penelitiannya dalam disertasinya yang berjudul ‘Pengelolaan Limbah Industri Kecil Nata De Coco Melalui Teknologi Produksi Gas Bio dan Pemanfaatannya sebagai Pupuk Organik Cair’.
Menurut Zaitun, bahan baku pembuatan gas bio merupakan campuran limbah nata de coco dan kotoran sapi dengan 4 macam perlakuan yakni T1, T2, T3 dan T4. Formulasi T1 terdiri dari 75 persen nata de coco + 25 persen kotoran sapi.
“T2 terdiri dari 50 persen limbah nata de coco + 50 persen kotoran sapi. T3 tersusun atas 25 persen limbah nata de coco + 75 persen kotoran sapi. Sedangkan T4 berasal dari 100 persen kotoran sapi. Bahan baku tersebut diproses dalam pencerna anaerobic selama 30 hari,” jelas Zaitun.
Dijelaskan, sebenarnya dibanding kotoran sapi, kotoran babi, ayam dan kuda lebih baik, sebab rantai karbon-nya lebih banyak. Tetapi Zaitun kemudian memilih kotoran sapi, karena disekitar lokasi penelitiannya banyak dijumpai peternakan sapi dan sulit ditemui peternakan babi, ayam serta kuda.
“Manfaat lain yang diperoleh dari penggunaan kotoran sapi itu adalah mengurangi pencemaran lingkungan,” ujarnya.
Wanita kelahiran Pemantang Siantar, 12 Mei 1969 ini melakukan penelitian pendahuluan di Laboratorium Kimia dan Lingkungan, Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB. Sementara percobaan pembuatan gas bio dan penerapan pemanfaatan limbah gas bio dilaksanakan di Desa Jabon Mekar, Parung, Bogor terhitung bulan Agustus 2001 hingga November 2003.
Gas bio hasil penelitian Zaitun merupakan campuran berbagai gas seperti gas metana, gas hidrokarbondioksida, gas dihidrogen sulfur, dan gas nitrogen dioksida. Kandungan gas metananya cukup tinggi, untuk T3 sebesar 82,97 persen dan T4 81,35 persen.
Gas bio yang dihasilkan dari perlakuan T3 dan T4 ternyata dapat dimanfaatkan untuk memasak dengan produksi gas bio sebesar 44,07 liter per hari pada T3 dan 49, 88 liter per hari T4. “Pemanfaatan gas bio untuk memasak 1 liter air hingga mendidih. Pada perlakuan T3 membutuhkan 30,1 liter gas bio selama 17 menit 23 detik. Adapun pada perlakuan T4 membutuhkan 36 liter gas bio selama 20 menit 47 detik,” ungkapnya.
Zaitun memperkirakan sehari sebuah industri nata de coco memasak air 125 liter, berarti dibutuhkan kurang lebih 10 unit pencerna anaerob. Sehingga bila dikonversikan sebuah industri membutuhkan 2000 liter limbah cair per hari.
Selain itu, setelah dianalisis limbah gas bio yakni berupa cairannya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Limbah cair tadi diketahui mengandung berbagai unsur hara (N,P,K,Ca,Mg,S,C-organik, Fe, Mn, Cu, Zn, B) yang sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan tanaman dan pHnya berkisar 5,36 -7,03.
Pemberian pupuk organik cair dapat meningkatkan produksi tanaman selada segar. Ditinjau sisi ekonomis pupuk cair hasil limbah gas bio perlakuan T3-lah yang paling menguntungkan dengan selang waktu penyiraman satu kali seminggu. “Karena mampu meningkatkan bobot segar tanaman menjadi 79,203 gram dibandingkan bobot segar tanaman yang diberi pupuk anorganik (TSP) hanya bisa menaikkan 8,95 gram,” ujarnya.
Dari segi kelayakan usaha, menurut Zaitun, pembuatan gas bio dan budidaya tanaman selada organik pada T3 (dengan selang waktu penyiraman pupuk organik cair satu kali seminggu) layak dilakukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar